Cap Sisingamangaraja XII

Ompu Pulo Batu (1848-1907) atau yang lebih dikenal dengan Sisingamangaraja XII, adalah musuh abadi pemerintah kolonial Belanda dan zending Kristen. Kini menjadi Pahlawan nasional karena perlawanannya yang gigih terhadap pemerintah kolonial Belanda. Setelah mengalami kekalahan dalam kedua perang Toba pada tahun 1878 dan 1883, ia bersembunyi di hutan belantara Dairi dan meneruskan perlawanannya hingga akhirnya tewas ditembak patroli Belanda pada tahun 1907.

Selama perlawanan terhadap pemerintahan kolonial, Ompu Pulo Batu menjadi Singamangaraja pertama yang berhasil menyatukan sebagian orang Batak untuk melawan hegemoni Barat dan ia bahkan mencoba merangkul serdadu pribum KNIL agar mengerahkan senjata pada tuannya yang bermata biru. Kekalahan militer yang dialaminya tidak mengurangi popularitasnya, malah membuatnya menjadi lambang perlawanan terhadap kekuasaan asing. Secara tradisional pengaruh seorang raja di daerah Batak umumnya terbatas pada suatu daerah yang relatif kecil, dan lembaga Singamangaraja pun sebelumnya tidak pernah berpengaruh di luar wilayah Sumba yang terdiri atas Samosir Utara, lembah-lembah di pantai barat Danau Toba, Toba Holbung, Habinsaran, Humbang, dan Silindung.

Berkat kharismanya dan terangkat oleh gelombang perasaan anti-Belanda, Singamangaraja XII bukan saja diakui dikampungnya sendiri, yaitu Tano ni Sumba, melainkan juga di Tano ni Lontung, dan bahkan di daerah luar Toba seperti Dairi, Simalungun, dan Karo.

Sebagai tokoh pertama dalam sejarah Batak yang memiliki pengaruh yang begitu luas, Ompu Pulo Batu menjadi raja pertama di tanah Batak yang memiliki cap untuk memperlihatkan kepada dunia luar bahwa statusnya setara dengan raja-raja lain di Sumatra. Beliau juga menjadi raja Batak pertama yang memilih kertas sebagai media tulis .

Diantara tiga cap Singamangaraja XII hanya dua orang yang selama ini dikenal dan berulang-ulang dibahas dalam berbagai buku dan makalah (Cap B di arsip Vereinigte Evangelische Mission (VEM) di Wuppertal, Jerman yang selama ini belum di kenal. Namun ternyata Singamangaraja XII bukan satu-satunya raja Batak yang memiliki cap. Ada juga ditemukan cap salah seorang raja di Simalungun (cap D). Dengan ditemukannya kedua cap tersebut tertambahlah pengetahuan kita tentang sejarah keberaksaraan di Sumatra Utara dan perubahan yang terjadi setelah kawasan itu terjamah oleh dua kekuasaan asing : zending Kristen asal Jerman, dan pemerintahan kolonial Belanda.

Ketiga cap Sisingamangaraja XII memiliki dua teks ; teks beraksara dan berbahasa Batak di pusat cap, dan teks beraksara Jawi (Arab Melayu) dan berbahasa Melayu dipinggiran cap yang berbentuk bundar.

Sumber : Surat Batak

Advertisements
Explore posts in the same categories: Artikel

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: