VIRUS PEMBUNUH MASA DEPAN GENERASI MUDA

Vicka (25), demikian lah namanya. Gadis itu kini menjadi salah satu relawan di Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi, sebuah panti rehabilitasi narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lain (narkoba), yang berlokasi di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur. Jika melihat postur tubuhnya yang kini berisi, tidak bakal terlintas sangkaan bahwa dulunya ia adalah pecandu berat narkotika.

Terhitung 12 tahun sudah saya terjebak dalam jerat narkoba. Saya sendiri seolah tak percaya itu semua bisa terjadi. Sekarang yang ada Cuma penyesalan,”ujar Vicka.

Ingatannya lantas kembali ke tahun 1992 saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Ketika itu, karena pengaruh teman-teman sekelas, ia mencoba mengonsumsi ganja, yang ngetop dengan sebutan cimeng. “Waktu itu saya nyimeng tiap kali istirahat sekolah. Saya senang karena kalau habis nyimeng selalu bisa tertawa-tawa”, ujarnya.

Ganja itu dilinting kemudian diisapnya bersama teman-teman secara sembunyi-sembunyi. Geng kecil anak-anak SMP “beranggota tetap” lima orang itu biasa mengkonsumsi ganja di kantin sekolah saat istirahat.

Perjalanan Vicka “bersama” narkoba berlanjut saat ia duduk di kelas satu sekolah menengah atas (SMA) pada tahun 1994. Kali ini ia menjadi pecandu Heroin. Kecanduannya terhadap narkoba diakuinya makin menjadi-jadi setelah ayah dan ibunya bercerai.

Perceraian itu memicu makin parahnya saya menjadi budak narkoba, tetapi bukan penyebab utama saya menjadi pecandu,” katanya lagi.

Saat ia duduk di kelas tiga SMA, ibunya memergokinya kecanduan itu. Vicka pun dimasukkan ke rumah sakit (RS) untuk direhabilitasi kesehatannya. Namun, ia hanya bertahan 12 hari di RS. Setelah itu ia kabur saat ibunya tinggal di Australia. Ketika itu Vicka kabur ke rumah temannya dan kembali mengonsumsi heroin selama 12 hari.

“Setelah 12 hari itu, saya kepergok lagi sama mama sehingga dimasukkan ke RS lagi. Setelah itu saya ke luar masuk RS tanpa pernah sembuh-sembuh. Mungkin mama geregetan sehingga saya disekolahkan di Australia supaya bisa dimonitor langsung oleh mama,”tuturnya.

Dasar pecandu, di Australia, Vicka bukannya lepas dari jerat Narkoba. Ia justru bertemu dengan seorang Bandar heroin, yang juga berasal dari Indonesia. Hebatnya lagi, ia sudah menemukan si Bandar saat dalam tahap pencarian lembaga pendidikan di Negeri Kanguru itu. Atau dimasa-masa awal ia berada di sana.

Tak pelak, Vicka hanya bertahan 20 hari di Australia. Sebab, ibunya segera ,menganulir studinya di Australia setelah tahu bahwa sebagian besar waktunya di sana hanya dihabiskan untuk mengonsumsi heroin.”Waktu itu saya beli heroin yang per plastiknya 40 dollar Australia,”ujar Vicka.

Perjalanan hidup kemudian mengantarkan Vicka pada kenyataan bahwa ia menjadi tahanan setelah tertangkap polisi. Ia bahkan pindah-pindah sel, dari sel Polsek Kebayoran Baru, Kepolisian Resor (Polres) Bekasi, sampai dimasukkan ke LP Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur, dan Balai Pamardi Siwi. “Jangan dibayangkan Pamardi Siwi seperti sekarang. Waktu tahun 2000 itu, masuk Pamardi Siwi masih ngeri. Karena militeristik banget, dikit-dikit pukul, sesama penghuni aja berantem,”katanya.

Namun ternyata, dari binaan Pamardi Siwi pulalah Vicka menemukan jalan menuju drug free. Sebab, setelah selama beberapa tahun menjadi residen di situ, Vicka dimasukkan ke sekolah konselor, waktu itu pendidikannya di Kusuma Wicitra Bogor. Seusai mengikuti pendidikan itu, ia ditetapkan sebagai peserta pilot project konselor muda Pamardi Siwi.

Dalam kenyataanya, belum tentu semua pengguna bisa seperti Vicka, yang setelah 12 tahun berhasil bebas dari jeratan narkoba.

Cerita di atas adalah satu dari sekian banyak atau bahkan jutaan cerita mengenai generasi muda yang tersangkut narkoba.

Pertanyaannya adalah bagaimanakah masa depan bangsa ini apabila generasi muda yang diharapkan dapat berperan aktif diusia produktifnya malah harus ditolong untuk keluar dari permasalahan narkoba.

Untuk memecahkan masalah ini tentulah bukan hal yang mudah, tetapi diperlukan upaya dari berbagai pihak. Pemerintah dan Warga Masyarakatnya. Butuh keseriusan Pemerintah untuk menangani masalah narkoba.
Celakanya di tengah peredaran narkoba yang makin memprihatinkan belakangan ini, sikap pemerintah terhadap penanganan narkoba tidak jelas. Tiga “cabang” penanganan narkoba, yakni supply reduction (pengurangan penawaran), demand reduction (pengurangan permintaan), dan harm reduction (pengurangan dampak lanjut), semuanya berjalan tidak maksimal.

Dalam supply reduction tidak terlihat ketegasan pemerintah terhadap terpidana pengedar narkoba yang telah di vonis mati oleh pengadilan. Bahkan terjadi preseden buruk dalam penegakan hukum masalah narkoba karena ada sebuah perkara yang sempat mengalami dua kali peninjauan kembali (PK) yaitu kasus terpidana Ayodhya di Medan, Sumatera Utara.

Padalah selama ini Indonesia hanya mengenal satu kali PK. Itupun untuk kasus-kasus tertentu saja, dengan mensyaratkan pula bukti baru yang cukup kuat. Sangat aneh jika kasus Ayodya yang bukan kasus luar biasa, tak ada bukti baru, dua kali diajukan PK.

Demand reduction pun setali tiga uang. Kampanye dan sosialisasi anti narkoba hampir selalu berhenti pada permasalahan jargon atau slogan belaka, seperti “Say No to Drugs”, atau “Mencoba Narkoba Awal Malapetaka”.

Konsep harm reduction juga masih dirasa kontroversial di Indonesia. Tujuan harm reduction sangat baik, yakni meminimalisasi dampak buruk bagi pengguna narkoba. Ambil contoh, distribusi jarum suntik steril bagi pengguna narkoba suntik. Program ini akan mengurangi penularan HIV/AIDS dikalangan pengguna karena mencegah penggunaan jarum suntik tidak steril.

Namun beberapa kekhawatiran masih membayangi. Misalnya, kemungkinan meningkatnya pengguna narkoba suntik jika itu dilakukan dan penyalahgunaan jarum suntik oleh petugas penyebaran jarum suntik.

Apakah kita sebagai warga masyarakat pada umumnya dan warga Kristen pada khususnya hanya diam menyaksikan penghancuran ini, ataukah kita harus melakukan sesuatu paling tidak untuk mengurangi dampak narkoba bagi bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Dari tiga cabang penanganan narkoba yang telah diuraikan diatas, terlihat jelas keterkaitan antara satu cabang dengan cabang lainnya. Supply akan otomatis berkurang apabila demand (Kebutuhan/permintaan) berkurang, dengan berkurangnya demand maka penggunaan atau efek lanjutpun akan berkurang.

Terlihat jelas disini bahwa yang perlu ditekan terlebih dahulu adalah demand(Permintaan). Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menekan demand…?

Untuk menekan demand perlu kita ketahui factor-faktor apa saja yang memicu sehingga banyak generasi muda yang tergelincir ke narkoba.

Hal yang paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah dari dalam lingkup keluarga.
Perceraian, kurangnya waktu orang tua bersama anak, pembinaan rohani, tidak adanya komunikasi dan lain-lain adalah faktor-faktor yang sangat dominan.

Untuk melakukan suatu pembinaan mental dan rohani, yang paling penting kita ketahui adalah kita harus membentuknya sedini mungkin. Sedini mungkin disini berarti sebagai orang Kristen, kita harus mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam alkitab kita dan disini bukan hanya dengan perkataan, tetapi sebagai orang tua kita juga harus menunjukkan contoh yang sesuai dengan apa yang kita ajarkan dan tanamkan kepada mereka. Bagaimana mungkin misalnya kita melarang anak kita merokok sementara kita merokok di depan mereka! Sebagai orang tua kita harus bisa menjadi teman bagi anak-anak kita sehingga mereka tidak segan-segan untuk berbagi kesulitan atau permasalahan yang mereka hadapi sehingga mereka tidak perlu lari ke hal-hal yang negatif.

Hal lain yang perlu kita lakukan adalah, aktifkanlah anak-anak kita dari kecil di kegiatan- kegiatan gereja. Pada waktu mereka masih dibawah lima tahun mereka bisa kita bawa ke sekolah minggu, selanjutnya ke taruna dan pemuda. Niscaya hal ini akan membantu anak-anak kita untuk selalu ingat untuk tidak keluar dari koridor-koridor ajaran Kristen.

Untuk itu marilah kita sebagai keluarga Kristen untuk melakukan upaya yang paling awal dalam mengurangi bahaya Narkoba dengan cara meluangkan waktu untuk bersama keluarga dirumah, meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak, berusaha aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja, sehingga dengan cara ini keluarga kita akan selalu mengandalkan kekuatan Tuhan dalam menghadapi segala masalah.

Penulis : Martino Sitorus

Advertisements
Explore posts in the same categories: Artikel

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: