Bangga Menjadi Orang Batak

Nama saya Martino Sitorus, saya lahir di Bangil , sebuah kota kecil di kabupaten Pasuruan sekitar 40 km dari Surabaya. Saya adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara.  Saya mempunyai 2 orang Abang dan 2 orang kakak. Saya dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1971.

Sejak belajar berbicara, saya sudah diajarkan untuk berbicara dalam bahasa Jawa (Suroboyoan) dan karena memang saya berada dilingkungan orang Jawa Timur yang totok, maka mau tidak mau saya memang harus belajar bahasa Jawa untuk berbicara dan bermain dengan teman-teman di lingkungan saya, sehingga dalam pertumbuhan masa kanak-kanak, saya selalu berkomunikasi dalam bahasa Jawa  baik itu dengan teman sebaya maupun dengan kakak-kakak saya (Abang dan Ito), namun orang tua saya, tante dan om (Namboru dan Amangboru) tetap berkomunikasi dengan bahasa Batak.

Saya menetap di Bangil sampai berumur 7 tahun dan kemudian pindah ke propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1978 sampai saya menamatkan kuliah dari Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar.  Selama di propinsi Sulawesia Selatan, saya berpindah-pindah kabupaten sebanyak 3 kali, yaitu pertama Kabupaten Bantaeng, selanjutnya dari Kabupaten Bantaeng saya pindah ke Kabupaten Jeneponto, dan setelah dari Kabupaten Jeneponto saya pindah ke Kabupaten Soppeng dan terakhir saya pindah dan menetap ke kota Ujung Pandang (Makassar) ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.

Seiring dengan pertumbuhan diri saya di Makassar dan kembali lagi untuk bermain dan berbicara dengan teman-teman sebaya saya, saya juga belajar Bahasa Bugis dan Makassar untuk memudahkan pergaulan saya dengan mereka.

Demikianlah saya bertumbuh dan berkembang dengan belajar bahasa daerah diluar dari bahasa daerah orang tua saya dan saya sangat merasakan betapa besar manfaat kalau kita bisa bahasa daerah orang lain.

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, ada perasaan yang bergejolak dalam diri saya, dimana saya sudah bisa bahasa daerah orang lain tetapi saya masih belum bisa berbahasa daerah orang tua saya (Bahasa Batak). Sebenarnya, saya bisa mengerti sedikit-sedikit arti dari Bahasa Batak apabila kedua orang tua saya bercakap-cakap, karena seringnya mendengar mereka bercakap, tetapi ini hanya sebatas dalam artian pasif.

Dalam pertumbuhan saya pun, Bapak saya sering mengajarkan bagaimana adat istiadat dan kebudayaan orang Batak. Saya sangat tertarik memperhatikan apa yang selalu diceritakan dan diajarkan oleh Bapak saya mengenai adat-istiadat Batak, bagaimana kita mengetahui silsilah kita, ataupun bagaimana kita menempatkan diri dalam posisi kita sebagai anak, tulang maupun boru.

Hal yang paling menarik menurut saya dari apa yang diajarkan oleh Bapak saya itu adalah filsafat orang Batak mengenai Dalihan natolu yaitu :

1.     Somba marhula-hula, diartikan sebagai hormat pada pihak keluarga ibu/istri.

2. Elek Marboru,yang diartikan sebagai ramah dan menyayangi keluarga saudara perempuan.

3. Manat Mardongan Tubu, yang diartikan sebagai kompak dalam hubungan semarga..

 Ketiga filsafat tersebut diatas nampaknya sangatlah sederhana, tetapi dalam penjabarannya mempunyai makna yang sangat dalam karena pada kenyataan –nya dalam tatanan hidup orang Batak, kita selalu menduduki ketiga posisi tersebut diatas secara bergantian, hal ini lebih nyata lagi pada saat acara-acara adat Batak (atau dalam istilah orang Batak dikenal dengan “Pesta”), suatu saat apabila marga kita mengadakan “pesta” maka kita akan ditempatkan pada posisi sebagai Raja (Hula-hula), dimana sebagai raja maka kita akan dilayani oleh boru dan di saat lain pada saat pihak istri kita yang melaksanakan Pesta, maka kita akan ditempatkan pada posisi boru, dimana sebagai boru maka kita akan melayani raja (hula-hula).

Dari penjabaran tersebut diatas, sangat jelas dinyatakan unsur keseimbangan yang harus kita jaga, dimana pada saat kita menjadi raja, maka kita tidak akan semena-mena memperlakukan boru, karena pada kenyataannya kita juga akan merasakan posisi sebagai boru dilain waktu.

Saya sangat salut dan kagum akan kepandaian dari nenek moyang kita pada jaman dahulu, dimana mereka dapat membuat sebuah aturan yang sangat sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dahsyat dan efektif.

Saya sebagai orang Batak yang telah lahir dirantau merasa sangat bangga dilahirkan sebagai Orang Batak dan memiliki budaya Batak, dan saya sangat menyayangkan kalau pada jaman sekarang ini banyak sekali anak-anak muda Batak yang lahir di rantau dan tidak begitu menghayati apalagi menghargai budaya Batak warisan leluhur nenek moyang kita orang Batak.

Untuk itu saya mengajak dan menghimbau generasi muda Batak, marilah kita mempelajari lebih dalam adat istiadat dan budaya orang Batak sehingga kita juga mau melestarikan warisan leluhur nenek moyang kita yang sangat dahsyat ini.  

Penulis :  Martino Sitorus

Di Bekasi

Advertisements
Explore posts in the same categories: Artikel

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: